“Ngiring Matembang Bali”, Kolaborasi Opera dan Lagu Bali

Heny Janawati & The Resonanz Children Choir mempersembahkan “Ngiring Matembang Bali”, sebuah pertunjukkan seni yang memadukan teknik opera dan lagu-lagu Bali di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Minggu (20/7). Heny Janawati merupakan salah More »

“The Piano Brothers”, Kolaborasi Pianis Indonesia-Inggris

Pianis asal Indonesia Elwin Hendrijanto dan Dominic Ferris asal Inggris yang tergabung dalam “The Piano Brothers” tampil dalam konser di Kings Place, London, akhir pekan lalu. Dalam konser piano kembar ini, Elwin More »

Bluzzugan Bloes Betawi, “Kawinkan” Keroncong, Jazz, dan Blues

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Jakarta ke-487,  Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengelar festival budaya satu hari bertajuk Bluzzugan Bloes Betawi di pelataran Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis, More »

Gita Cinta Production Gelar Jakarta Melayu Festival

Musik Melayu mengakar di masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Namun genre ini kini kurang dilirik industri Tanah Air. Berawal dari idealisme mengangkat harkat musik Melayu, Gita Cinta Production akan menggelar Jakarta More »

Lagu “O ina ni keke” bergema di Chapel Grosvenor London

Lagu “O ina ni keke” yang dilantumkan paduan suara Batavia Madrigal Singers (BMS), salah satu kelompok paduan suara terbaik di Indonesia berkolaborasi dengan Coro Chamber Choir yang berbasis di London memukau penonton More »

 

“Ngiring Matembang Bali”, Kolaborasi Opera dan Lagu Bali

Matembang Bali

Heny Janawati & The Resonanz Children Choir mempersembahkan “Ngiring Matembang Bali”, sebuah pertunjukkan seni yang memadukan teknik opera dan lagu-lagu Bali di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Minggu (20/7).

Heny Janawati merupakan salah seorang penyanyi opera yang berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia dengan suara emasnya. Kecintaannya kepada Indonesia membawanya kembali ke tanah air dan mendedikasikan diri untuk kemajuan musik klasik Indonesia.

Para penikmat seni Galeri Indonesia Kaya berkesempatan mendengarkan lagu-lagu Bali yang dinyanyikan oleh Heny Janawati dengan teknik opera yang tentunya memberikan sajian segar yang sangat menarik bagi para penikmat seni.

“The Piano Brothers”, Kolaborasi Pianis Indonesia-Inggris

pianobrother

Pianis asal Indonesia Elwin Hendrijanto dan Dominic Ferris asal Inggris yang tergabung dalam “The Piano Brothers” tampil dalam konser di Kings Place, London, akhir pekan lalu.

Dalam konser piano kembar ini, Elwin dan Dominic menggunakan permainan multimedia dan juga melibatkan dua violinis, satu pemain viola (biola alto) cello, double bass, satu gitaris, serta dua pemain saxophone, demikian  lansir Sekretaris Satu Fungsi Ekonomi KBRI London, Hastin Aristya Bakti Dumadi seperti dikutip kantor berita Antara.

Bluzzugan Bloes Betawi, “Kawinkan” Keroncong, Jazz, dan Blues

tanjidor-modern33

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Jakarta ke-487,  Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengelar festival budaya satu hari bertajuk Bluzzugan Bloes Betawi di pelataran Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis, 26 Juni 2014.

Menurut salah seorang panitia acara, Ubiet Raseuki, digelarnya acara “Bluzzugan Bloes Betawi” ini tidak ada hubungannya dengan salah satu calon presiden. Acara ini digelar bertepatan dengan HUT IKJ ke-44.

Menurutnya, penggunaan kata “blusukan” sebetulnya sudah disebutkan mahasiswa di IKJ sejak dahulu untuk sebuah kegiatan kesenian di masyarakat.

Gita Cinta Production Gelar Jakarta Melayu Festival

musik-melayu-ilustrasi

Musik Melayu mengakar di masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Namun genre ini kini kurang dilirik industri Tanah Air. Berawal dari idealisme mengangkat harkat musik Melayu, Gita Cinta Production akan menggelar Jakarta Melayu Festival untuk ketiga kalinya pada 22 Agustus 2014 di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Lagu “O ina ni keke” bergema di Chapel Grosvenor London

inanikeke

Lagu “O ina ni keke” yang dilantumkan paduan suara Batavia Madrigal Singers (BMS), salah satu kelompok paduan suara terbaik di Indonesia berkolaborasi dengan Coro Chamber Choir yang berbasis di London memukau penonton di Grosvenor Chapel, di belakang KBRI London, Rabu malam.

Selain melantumkan lagu “O ina ni keke” paduan asal Indonesia Batavia Madrigal Singers (BMS), dan Coro Chamber Choir yang berbasis di London juga melantumkan lagu Magnum Misteryum, demikian Sekretaris Satu Fungsi Ekonomi KBRI London, Hastin Aristya Bakti Dumadi kepada Antara London, Jumat.

Empat Gitaris Prancis Siap “Gempur” Surabaya

Gabriel Bianco

Bagi warga Surabaya, bersiaplah menerima sapaan empat gitaris Prancis pada festival Musim Semi Prancis, Printemps Francais 2014.

“Salah satu dari empat gitaris itu Gabriel Bianco. Ia kembali konser ke Surabaya mengajak tiga gitaris muda berbakat yang tergabung dalam Quatuor Eclisses,” kata Penanggung Jawab Budaya dan Komunikasi IFI Surabaya, Pramenda Krishna A, dihubungi di Surabaya, Jumat.

Seluruh Kecamatan Yogyakarta Akan Memiliki Gamelan

gamelan-jawa

Seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta pada 2014 ditargetkan memiliki peralatan gamelan yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok kesenian untuk berlatih.

“Saat ini, ada lima kecamatan yang sudah memiliki gamelan. Tahun ini, akan diupayakan penambahan agar semua kecamatan bisa memiliki gamelan,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Budi Santoso di Yogyakarta, akhir  pekan lalu.

Ia mengatakan lima kecamatan yang sudah memiliki gamelan, adalah Umbulharjo, Gondokusuman, Danurejan, Jetis, dan Ngampilan.

Pada 2014, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta telah menganggarkan dana Rp1,1 miliar melalui APBD Kota Yogyakarta untuk membeli gamelan.

Gamelan tersebut akan ditempatkan di enam kecamatan, yaitu Gedongtengen, Gondomanan, Mantrijeron, Mergangsan, Tegalrejo, dan Wirobrajan.

“Sedangkan tiga kecamatan lain, yaitu Kraton, Pakualaman, dan Kotagede akan diusulkan untuk memperoleh gamelan dari Pemerintah DIY,” katanya.

Namun demikian, kata Budi, peralatan gamelan yang diberikan ke kecamatan tersebut tidak lengkap satu set karena kecamatan harus memilih antara dua jenis gamelan.

“Hanya boleh memilih apakah menginginkan gamelan slendro atau gamelan pelog. Tidak bisa keduanya sekaligus,” katanya.

Pada pengadaan 2014, dua kecamatan memilih gamelan pelog dan empat lainnya memilih gamelan slendro.

“Kami sudah menyampaikan paket pengandaan gamelan tersebut ke Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Pemerintah Kota Yogyakarta. Diharapkan pada pertengahan Mei sudah dapat tindak lanjut lelangnya,” katanya.

Berdasarkan rencana umum pengadaan, peralatan gamelan tersebut sudah dapat dinikmati oleh kecamatan mulai pertengahan tahun.

Budi berharap, seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta dapat menjadi semacam “pusat kegiatan seni dan budaya” di wilayah.

“Setiap hari, selalu ada kegiatan kesenian di wilayah meskipun tidak harus selalu memainkan gamelan,” katanya yang menyebut ada sekitar 700 kelompok kesenian di wilayah setempat.

Kecamatan yang sudah memiliki gamelan, kata dia, dapat memanfaatkan peralatan yang diberikan tersebut dengan baik. [ant/it-2/foto:istimewa]

Dubes AS nikmati suguhan “Hip Hop Ambassadors”

robertblake

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake Jr bersama-sama dengan para undangan menikmati dan turut menggerak-gerakkan tangannya ke atas begitu grup “Hip Hop Ambassadors” mendendangkan sejumlah lagu.

“Selamat malam, selamat malam,” sapa Dubes Blake saat membuka acara hiburan itu yang diadakan di halaman kedutaan besar AS di bilangan Menteng, Jakarta, setelah jamuan makan pada Jumat malam.

Para undangan yang terdiri atas artis, wartawan, tokoh masyarakat dan anak-anak muda penggemar musik hip hop menjawab sapaan Dubes Blake, yang disertai istri dan tiga anaknya.

Blake, yang mulai bertugas di Jakarta pada akhir Januari 2014, hanya berbicara singkat dan mengajak hadirin untuk langsung menikmati suguhan grup musik itu.

“Hip Hop Ambassadors” yang beranggota Anas Canon, Baraka Blue, Sunni Ali dan Erik Rico menyuguhkan beberapa lagu dan Dubes Blake dan anak-anak muda termasuk remaja AS pun seolah terhipnotis untuk menggerak-gerakkan tangan dan bergoyang saat mereka mendengar para rapper beraksi di atas panggung.

Hip Hop adalah sebuah gerakan kebudayaan yang mulai tumbuh sekitar 1970-an dan dikembangkan oleh masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika di AS. Jenis musik ini merupakan perpaduan yang sangat dinamis antara elemen-elemen yang terdiri atas MCing (lebih dikenal rapping), DJing, Breakdance dan Graffiti.

Kelompok itu mengadakan beberapa pertunjukan di beberapa daerah di Indonesia termasuk Jakarta.

Program “Hip Hop Ambassadors” bertujuan untuk memelihara keberagaman dan mendorong rasa saling mengerti melalui kolaborasi dan pertukaran kaum muda dalam bidang seni.

Sebagai instrumen untuk mendorong perdamaian, program ini juga menampilkan artis Amerika Serikat, yang bertindak sebagai duta besar kebudayaan AS. Dalam program ini, kaum muda perkotaan AS memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia dan mengasah ketrampilan hidup yang membantu mereka meraih sukses ketika berkolaborasi dengan kelompok-kelompok yang berbeda.

Program “Hip Hop Ambassadors” berkolaborasi dengan “Very Necessary” — kelompok musik yang terdiri atas artis-artis ternama. Grup itu sebelumnya dikenal dengan nama “Remarkable Current Musician Collective,” sebuah label rekaman independen yang telah menetapkan standar baru dalam musik urban internasional selama lebih 10 tahun terakhir.

Anas Canon memiliki bakat luar biasa dalam merangkai lirik, audio production, sound engineering, dan menjadi DJ. Bakatnya telah membawa Canon ke berbagai belahan dunia. Ia memiliki komitmen untuk meningkatkan kesadaran sosial akan keberagaman melalui seni dan terus mengekplorasi cara-cara baru untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya.

“Kami ingin memperbanyak teman di Indonesia dengan pesan berisi cinta dari lagu-lagu yang kami suguhkan,” kata Canon kepada Antara ketika kelompok itu mengunjungi Masjid Istiqlal, Jumat siang, dan bertemu dengan beberapa wartawan. [ant/it]

Pemerintah Harus Turun Tangan Bantu Musik Tradisional

Tohpati

Sebagai seorang musisi, Tohpati sangat mengedepankan musik tradisional agar tak hilang dimakan jaman. Gitaris kenamaan Indonesia itu ingin, tak hanya dirinya yang peduli akan kelestarian musik Tanah Air. Pemerintah juga harus campur tangan mengenai hal ini.

“Nggak hanya tari saja yang harus berkembang, musik juga harus berkembang. Berharap pemerintah bisa suport karya anak bangsa,” kata Tohpati saat ditemui dalam Festival Mahakarya Indonesia di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Jumat (9/5/2014).

Menurut sahabat Balawan dan Dewa Bujana itu, kalau musik Indonesia sangatlah beragam dan tak sepeti musik-musik dari negara lain. Untuk itu ia mencoba memadukan antara musik tradisional dengan musik yang sedang berkembang saat ini.

“Menurut saya itu kelebihan kita dari musisi-musisi dunia. Jadi saya mengkolaborasikan notasi musik tradisional dengan modern,” jelasnya.

Untuk itu, apapun yang berbau dengan seni dan budaya Indonesia, Tohpati akan selalu antusias untuk ikut melestarikannya. Karena, dirinya akan selalu bangga saat memainkan musik negeri sendiri.

“Saya senang yang berhubungan dengan tradisi karena saya bangga dengan budaya Indonesia,” katanya. [Lip6/i2/foto:istimewa]

Lagu Indonesia Raya Berkumandang di Manchester

agu-indonesia-raya-800x533

Lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi pembuka acara tahunan Festival Budaya Indonesia  ICF)yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris cabang Greater Manchester (PPI-GM) kota yang dikenal dengan klub sepakbola Manchester United. Festival yang mengusung tema “menyatukan keberagaman” ini, bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia.

Ketua Panitia Penyelenggara ICF 2014, Bima Arya mengatakan  tema kali ini dipilih untuk merangkul mahasiswa Indonesia di Inggris serta menunjukkan eksistensi masyarakat Indonesia kepada dunia melalui pagelaran budaya. Dalam acara ICF tahun ini bertempat di Manchester Academy 1, University of Manchester Student Union, ditampilkan berbagai tarian-tarian, pameran kebudayaan dan kuliner khas Indonesia yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahim antar masyarakat Indonesia di Inggris khususnya di Greater Manchester.

ICF kali ini agak sedikit berbeda dengan  tahun – tahun sebelumnya karena untuk pertama kalinya, ICF diselenggarakan dengan konsep kompetisi dengan sistem pemungutan suara pengunjung. Juara I berhasil diraih oleh tim London yang telah memukai penonton melalui Tari Pangkur Sagu. Acara ini juga dimeriahkan oleh penyanyi Vidi Aldiano.

Pengunjung diajak untuk mencicipi kuliner Indonesia seperti bakso, nasi padang, cendol, siomay, gado-gado, empek-empek, martabak, ayam cabe hijau, dan kue-kue jajanan Indonesia. Ajang ini berhasil menyedot 300 pengunjung baik warga Indonesia maupun asing.

“Hal tersebut membuat kami senang karena selain bisa merasakan kembali ke kampung halaman, acara ini juga dapat memperkenalkan keindahan budaya Indonesia ke mata dunia,” tutur Anggara Pradhana, Ketua Umum PPI-Greater Manchester 2013/2014.

Wali Kota Manchester, Councillor Naeem ul Hassan merasa senang karena diundang ke acara dari komunitas Indonesia yang terbuka untuk publik. Ia juga terkesan dengan cita rasa makanan Indonesia yang baru pertama kali beliau coba di ICF ini terutama martabak manis. [ant]