Bing Slamet, Sang Maetro Dunia Panggung Indonesia

Seniman serba bisa, Bing Slamet, namanya tidak bisa dilepaskan dari dunia pertunjukkan Indonesia. Bakatnya menghibur memang sudah dimiliki sejak kecil. Dikisahkan,   pemilik nama asli Ahmad Syech Albar, sempat menghibur para pejuang Republik More »

Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 3rd: Jatiwangi Mainkan Musik Tanah

Band alat musik genting asal Jatiwangi “Hanya Tera” memainkan musik tanah mereka di pembukaan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 3rd di Galeri Nasional, selasa  lalu, (23/09/2014). Pada kesempatan itu, band yang beranggotakan 5 More »

Persatuan Insan Kolintang Nasional Patenkan Kolintang ke Unesco

Idenesia sebagai salah satu program di bidang edukasi dan pelestarian budaya nusantara, kini kembali hadir. Melalui tema berbeda setiap minggunya, kali ini Idenesia membahas tema tentang Kebudayaan Minahasa, yakni kolintang. Kolintang adalah More »

Tony Yawan Sabet Juara Bintang Radio RRI 2014

Penyanyi putra daerah Kabupaten Biak Numfor, Papua, Tony Yawan keluar sebagai juara pertama lomba bintang radio 2014 kategori pria yang diselenggarakan Lembaga Penyiaran Publik RRI. Data diperoleh ANTARA, Sabtu, untuk juara dua More »

DKJ Rekomendasikan Puisi untuk Jadi Lirik Lagu

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta merekomendasikan kepada para musisi tanah air untuk “menggarap” lagu dengan menggunakan lirik dari puisi yang ada. “Ayo para musisi Tanah Air, manfaatkanlah teks puisi sebagai sumber karya More »

 

Bing Slamet, Sang Maetro Dunia Panggung Indonesia

bing

Seniman serba bisa, Bing Slamet, namanya tidak bisa dilepaskan dari dunia pertunjukkan Indonesia. Bakatnya menghibur memang sudah dimiliki sejak kecil. Dikisahkan,   pemilik nama asli Ahmad Syech Albar, sempat menghibur para pejuang Republik tahun 1942-1945.

Diusianya yang ke-12 tahun, Bing Slamet bergabung dengan orkes “Terang Bulan” yang dinahkodai Husin Kasimun, dan juga mendalami seni peran dengan bergabung dengan kelompok teater “Pantja Warna”.

Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 3rd: Jatiwangi Mainkan Musik Tanah

band-homep

Band alat musik genting asal Jatiwangi “Hanya Tera” memainkan musik tanah mereka di pembukaan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale 3rd di Galeri Nasional, selasa  lalu, (23/09/2014).

Pada kesempatan itu, band yang beranggotakan 5 orang ini memainkan beragam alat musik dari tanah genting, seperti gitar genting, sadatana, tambur genting, gamelan genting dan bas genting.

Persatuan Insan Kolintang Nasional Patenkan Kolintang ke Unesco

kolintang2

Idenesia sebagai salah satu program di bidang edukasi dan pelestarian budaya nusantara, kini kembali hadir. Melalui tema berbeda setiap minggunya, kali ini Idenesia membahas tema tentang Kebudayaan Minahasa, yakni kolintang.

Kolintang adalah alat musik tradisional asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang dibuat dari kayu Cempaka. Nada-nada yang diciptakan Kolintang sama seperti piano, yaitu diatonis, sehingga bisa mengiringi semua jenis lagu. Uniknya, untuk memainkan alat musik ini memerlukan minimal lima orang.

Tony Yawan Sabet Juara Bintang Radio RRI 2014

Logo-RRI-001

Penyanyi putra daerah Kabupaten Biak Numfor, Papua, Tony Yawan keluar sebagai juara pertama lomba bintang radio 2014 kategori pria yang diselenggarakan Lembaga Penyiaran Publik RRI.

Data diperoleh ANTARA, Sabtu, untuk juara dua kategori pria diraih penyanyi Hugo Miossido, juara tiga Richard Imkotta serta juara harapan Klass William.

DKJ Rekomendasikan Puisi untuk Jadi Lirik Lagu

lagu-puisi-ilustrasi

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta merekomendasikan kepada para musisi tanah air untuk “menggarap” lagu dengan menggunakan lirik dari puisi yang ada. “Ayo para musisi Tanah Air, manfaatkanlah teks puisi sebagai sumber karya musik,” kata Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Fikar W. Eda, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Paduan Suara “Paragita UI” Sabet Juara di Italia

paragita-ui

Paduan Suara Paragita Universitas Indonesia menjadi Juara kedua kategori paduan suara campur (mixed choir) dan juara ketiga kategori paduan suara kelompok kecil (equal or mixed choir vocal ensemble) dan kategori (historical period) di 62nd Guido d’Arezzo International Polyphonic Competition di Arezzo, Italia

Solo Keroncong Festival Digelar di Benteng Vestenberg

solo-keroncong-fes

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo melestarikan khasanah seni musik Keroncong asli Nusantara. Langkah ini diujudkan dalam even Solo Keroncong Festival (SKF) di halaman Benteng Vestenberg pada 26-27 September 2014.

Pagelaran musik tradisi khas Nusantara ini, menurut Kepala Disbudpar), Eny Tyasni Susana, diikuti 16 kelompok grup musik keconcong, baik dari daerah Nusantara maupun manca negara. ”Mereka siap tampil, unjuk kebolehan di halaman Beteng Vestenberg nanti,” kata alumnus Fisip UNS Solo ini, Selasa (26/8).

Heny Janawati dan Kiprah di Panggung Opera

heny-janawati

Heny Janawati pernah menangis gara-gara Carmen. Pemilik suara mezosopran—jenis suara tengah bagi wanita dalam musik—ini meneteskan air mata karena menghayati peran Carmen. Dia adalah gadis gipsi dalam opera Carmen karya musikus Prancis, Georges Bizet, yang pertama dipentaskan pada 1875 di Paris.

“Pertama kali saya menyanyi Carmen di Ceko pada 2010. Saya sering emosional bahkan menangis saat latihan karena begitu kompleksnya karakter Carmen,” kata Heny seperti ditulis Koran Tempo, Kamis, 21 Agustus 2014. Dalam opera Bizet, Carmen merupakan gadis gipsi yang mempesona banyak pria karena kecantikannya. Namun kisah Carmen berakhir tragis saat mantan kekasihnya, Don Jose, menikamnya dengan pisau. “Demi sebuah kebebasan dan cinta, dia menghadapi ajalnya dengan sangat berani.”

Perkenalan Heny, 36 tahun, dengan opera dimulai dari keluarga. Ayahnya, almarhum I.G.B. Ngurah Ardjana, adalah musikus dan seniman Bali pencipta lagu Bali Pulina dan Sekar Sandat. “Beliaulah yang memperkenalkan saya dengan berbagai jenis musik, termasuk musik klasik,” kata Heny.

Kecintaannya pada opera muncul setelah mendengar rekaman Maria Callas, penyanyi Yunani yang dianggap simbol opera abad XX. Heny pun memutuskan ke luar negeri untuk mendalami bidang tersebut. Dia mengambil diploma bidang musik klasik di Vancouver Community College pada 2005, lalu dilanjutkan sarjana dan master bidang opera di University of British Columbia dan lulus pada 2013.

Selama studi, dia tampil dari panggung ke panggung di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Selain Carmen, dia juga pernah menjadi penyihir Jezibaba dalam lakon Rusalka yang bercerita soal putri duyung dalam mitologi bangsa Slavia karya musikus Republik Cek, Antonin Dvorak.

Tahun lalu, Heny pulang kampung. Dia mendirikan sekolah vokal Staccato di Denpasar. Dia juga terlibat dalam berbagai penampilan kolaborasi dengan Jakarta Chamber Orchestra dan paduan suara Batavia Madrigal Singers asuhan Avip Priatna. Lewat beberapa penampilannya, dia memberikan sentuhan operatik pada lagu-lagu tradisional Indonesia, seperti dalam program Senandung Opera Sumatra dan Ngiring Matembang Bali di Grand Indonesia, Jakarta, Juni lalu. [tempo.co/it/foto:fb]

Jodhi Yudono Akan Musikalisasikan Puisi-puisi 1945

jodhi

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69, stasiun televisi Metro TV menghadirkan Nyanyian Puisi Jodhi Yudono yang akan ditayangkan pada Minggu, 17 Agustus 2014, pukul 08.00 – 09.30 WIB.

Empat Harpist dalam Satu Karya

harpa-player

Harpa. Alat musik petik itu memang tak lagi asing di telinga masyarakat. Banyak anak muda yang mulai menekuni alat musik yang konsepnya berasal dari alat musik petik kuno di Mesir dan Yunani tersebut. Salah satunya adalah Jessica Sudiarto, pemusik muda berbakat dari Surabaya.

Dengan ceria, gadis 16 tahun itu sangat luwes memetik senar harpa. Selasa kemarin (12/8) dia tidak sendiri. Ada Rama Widi dan Lisa Gracia, dua harpist terbaik Indonesia, yang bermain bersama Jessica. Minggu lalu   (13/8), bersama Maya Hasan, professional harpist, mereka tampil dalam konser bertajuk Kaleidoskop 3 Generation of Indonesia Harpist.